Satu pelita untuk MTB menyala
Kampanye Anak “Calistung” MTB

Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Senin (12/12/2011) meluncurkan kampanye anak ‘Calistung untuk Indonesia’.

Kampanye ini untuk mendorong dan menggalang kesadaran bersama masyarakat di seluruh Maluku Tenggara Barat, untuk bahu-membahu memberantas buta calistung (baca, tulis, hitung).

Dalam rangkaian peluncuran kampanye ini, digelar berbagai kegiatan di Pendopo Kantor Bupati Maluku Tenggara Barat, di Saumlaki. Kegiatan tersebut berlangsung dari 12-14 Desember 2011.

Kabupaten Maluku Tenggara Barat, lebih dikenal sebagai Kepulauan Tanimbar, adalah salah satu kabupaten terdepan di Indonesia yang berpredikat daerah tertinggal. Banyak tantangan yang dihadapi pemerintah dan masyarakat setempat, di antaranya bidang pendidikan. Di pedesaan, ada siswa SMA masih kesulitan membaca.

Dari hasil pengalaman lapangan dan diskusi intensif dengan berbagai pihak, para pengajar muda yang terjun langsung mengajar di tujuh desa di Maluku Tenggara Barat menemukan, salah satu pangkal ketertinggalan siswa-siswi Maluku Tenggara Barat adalah terbatasnya penguasaan kemampuan pengetahuan dasar calistung.

Siswa-siswi SD yang harusnya sudah melek huruf sejak kelas 1 SD, ternyata masih banyak yang baru menguasai calistung di kelas 4 dan 5, bahkan beberapa di kelas 6 SD.

 ”Padahal dengan tingkat standar kompetensi yang berjenjang tiap tingkatan kelas, keterlambatan penguasaan calistung otomatis akan membuat siswa-siswi terlambat menyerap materi berikutnya,” kata Dedi K Wijaya, Pengajar Muda di Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Pengajar muda di Maluku Tenggara Barat bersama dengan pemerintah daerah setempat memutuskan mengadakan Gerakan Pemberantasan Buta Calistung. Itu dilakukan, agar secara serentak mengakselerasi kemampuan penguasaan calistung anak-anak di tingkat sekolah dasar di seluruh Maluku Tenggara Barat.

Kampanye itu terdiri atas berbagai kegiatan yang saling terkait, dan melibatkan dukungan semua pihak. Kegiatan di antaranya lomba membaca, lomba menulis surat, lomba cerdas cermat matematika, eksperimen sains, perpustakaan mini, pemeriksaan mata dan gigi gratis, atraksi daerah Tnabar Fanewa, atraksi seni, talkshow calistung, serta Deklarasi Gerakan Pemberantasan Buta Calistung.

Pada akhir kegiatan ini akan dibagikan Poster Kampanye Berantas Buta Calistung kepada setiap SD di Maluku Tenggara Barat, sebagai langkah awal dari kampanye yang dilakukan

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2011/12/12/17221591/Kampanye.Calistung.di.Maluku

Apalah Artinya Seorang Pengajar Muda (#2). oleh: Ratih Diasari

Pengalaman Mengajar

Pada awalnya semua orang bangga dengan pilihannya, tapi akhirnya tak semua orang setia pada pilihannya. Saat ia sadar bahwa yang dipilihnya mungkin tidak sepenuhnya sama seperti apa yang diimpikan. Karena yang sulit dalam hidup ini, bukan memilih. Tapi bertahan pada pilihan. Sedikit waktu mungkin sudah cukup untuk menentukan pilihan. Tapi untuk bertahan pada pilihan tersebut, bisa jadi harus menghabiskan sisa waktu usia yang dimiliki. Seperti itulah satu kata yang begitu mudah diucapkan tapi begitu sulit untuk diamalkan, yaitu “Istiqomah”.

Pada waktu ini, langit telah menampakan warna merah, kuning, orange dan kejinggaannya saat sore padam berganti malam. Pukul 19.00 WIT. Tiga jam sudah berlalu, saya masih duduk manis menemani anak-anak belajar di pelataran rumah Bure, salah satu siswa kelas III SD Inpres 2 Adaut. Sudah malam begini masih saja puluhan anak berdesakan, berhimpit sorong-sorongan, dan tertawa lepas tanda semangat mengerjakan enam soal perkalian yang saya berikan.

Dengan pena dan buku seadanya, mereka masih bersemangat mengkalkulasikan bilangan perkalian dengan konsep yang saya umpamakan seperti bakul dan gelondongan kayu bakar. Begitu pula dengan kondisi beberapa anak lainnya. Hanya ditemani dengan lampu neon pijar yang menyala pada jam enam, merekapun secara bergantian mengeja kata demi kata yang belum fasih bagaimana cara mengucapkannya. Saya memang tak sendiri, ada sekitar 18 pasang mata lagi yang terus memandangi saya kala memberikan les membaca bagi anak-anak ini.

Hari ini memang waktunya saya memberikan les tambahan bagi anak-anak ini. Senin-kamis sore untuk les tambahan, sedangkan jumat-minggu sore untuk mengajar mengaji. Terus berkeliling seperti itu. Menyambangi rumah mereka satu per satu, berharap orang tua bisa turut peduli atas kemampuan dan perkembangan anaknya kelak, suatu saat nanti. Saya mengajar kelas III sebanyak empat puluh tujuh orang siswa. Dari banyaknya siswa yang ada, ada sekitar tiga puluh orang anak yang belum lancar dalam membaca. Beberapa diantaranya tidak tahu bagaimana cara mengeja, sisanya tidak tahu bagaimana cara membaca huruf F, G, H, M, W, X dan Y. Tak usah heran, saya yakin semua kondisi daerah pedalaman sama. Tak lihai matematika, dan tak pandai dalam urusan membaca.

Ingat sekali di awal dulu, pertama kali membuat RPP dengan menurunkan SK-KD kelas III yang sudah paten pemberlakuannya. Realisasi pelaksanaan RPP saat mengajar di kelas, sungguh jauh mengagetkan. Tidak ada tiga perempat anak-anak bisa membaca. Tidak ada tiga perempatnya, bisa membilang bilangan tiga angka. Padahal waktu itu, kuajarkan bilangan tiga angka dengan indikator yang sangat sederhana. Outputnya hanya meminta mereka benar dalam membaca dan benar dalam menuliskannya. Tiga hari berjalan tetap dengan indikator yang serupa. Saya berikan pemanasan, namun tetap saja tak kunjung memberikan harapan yang nyata. Sudah diterangkan mulai dari penjabaran konsep, games sate angka, belajar mencari harta karun tetap saja hasilnya nihil semata. Hanya beberapa saja yang tampak sudah bisa mengikuti pola iramanya.

Menulis saja sulit apalagi membacanya. Saya ubah dengan pembelajaran visual, menjadi tugas rumah dengan copy-an gambar tiga angka yang dibagi dengan merata. Angka lima sebagai ratusan harus diberi warna merah, angka delapan sebagai puluhan harus diberi warna kuning dan angka enam sebagai satuan harus diberi warna hijau. Saya yakin perlahan semua pasti bisa, tinggal menunggu kapan waktu menuai itu tiba.

Ternyata kenyataannya tidak semudah yang saya kira. Hanya empat orang yang mengumpulkan tugas, yang lainnya tidak menunjukkan sebuah tanda-tanda. Kau tahu kenapa? Ternyata di pulau ini tidak dijual pensil warna ataupun spidol berwarna. Hanya ada pulpen berwarna hitam atau pensil yang berwarna abu-abu. Tak pernah saya sangka, tak ada pedagang yang mau menjual barang dagangan berupa pensil warna, baju seragam atau hanya sekedar sepatu olahraga. Alhasil, menyebrang ke Saumlaki dengan kapal dausawk, semua kebutuhan itupun baru dapat terpenuhi.

Ganti hari, ganti pelajaran. Hari lain saya ajarkan mereka pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Saya berikan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) tentang Sumpah Pemuda. Saya mulai pembelajaran dengan menyanyikan lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” secara bersama. Tak saya sangka mereka jauh lebih kreatif dari saya yang sudah hapal lagu di luar kepala. Mereka mengubah kata “Merauke” menjadi “Angwarmas” yang merupakan pulau kecil, tak jauh di depan mata. Sungguh super, menakjubkan, luar biasa!

Lantas saya lanjutkan dengan membuat peta Indonesia yang meliuk indah, sebagai penggambaran yang ala kadarnya. Saya sampaikan hamparan pulaunya merupakan satu kesatuan dalam tanah air Indonesia. Mereka tercengang, mungkin takjub, mungkin tak mengerti apa maksud ibu guru menjelaskan semuanya. Namun tak lama tiba-tiba saya dengar lantunan mulut kecil mereka berbicara. Memberikan jawaban, mengeluarkan beberapa kata-kata. Sebagian dari mereka menyebutkan Pulau Angwarmas, Pulau Nuyanat, Pulau Wedas, Pulau Kora dan Pulau Adautubun. Tak lebih. Bukan Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, apalagi Papua. Sungguh ‘luas wawasan’ mereka, bisa menyebutkan pulau-pulau yang dekat berada di seberang sana. Tak lama sayapun jatuh pingsan tak mengira ada saja kejadian yang sungguh menginspirasi, cerdas, jauh di atas kalkulasi saya yang rata-rata.

Hidup itu keras, maka gebuklah! Sebuah ungkapan optimis yang selalu kusuka dari buku Ipung karya Prie JS. Namun dalam refleksi ini, tak selamanya ternyata hidup itu harus selalu digebuk! Hidup itu keras maka seharusnya hidup itu digarami, dibanting, diinjaki, dikuliti, dimasak, direbus, dididihkan, dipecahkan, diperas sampai keluar santan-santan kanilnya seperti membuat santan untuk kolak. Mendidik anak-anak seorang diri memang tak enak. Tapi, sendiri mengajarkan mereka untuk mengerti adalah jauh lebih lezat karena dapat membuat kita jauh lebih kuat. Tempaan hidup sebagai pengajar muda tak seberapa dibanding tempaan anak-anak yang sudah lama hidup di negara yang berdaulat. Mau sampai kapan menangisi malam yang tak kunjung pagi? Mau sampai kapan berteriak pada awan yang tak kunjung putih? Cahaya itu telah ada pada orang yang sabar menanti. Sabar menanti sebuah kepastian kapan anak-anak bisa membaca sendiri.

“Beranilah bermimpi, dan bangunlah untuk mengejar mimpi-mimpi itu. Jika kesempatan menghampiri, itu baik. Namun jika tidak, ciptakan saja kesempatan itu.” (Denias: Senandung di Atas Awan)

Refleksi

Baru les tambahan seminggu saja, sudah ada tiga karung mangga, dan satu kantung garam yang memadati rumah me’tua di pelataran muka rumah. “Ibu guru ini baik sekali, mau mengajari Meki, jauh-jauh ke sini” seru Mamak Meki pada saya yang tak lama beranjak pergi meninggalkan rumah kediaman mereka. Entah mengapa setiap gelagat saya selalu diperhatikan oleh masyarakat desa. Mulai dari mengajak anak-anak studi banding ke Puskesmas dan Kantor Desa, mengikuti lomba 17-an yang waktu itu mengelilingi desa, menjenguk siswa setiap minggunya, dengan mengunjungi langsung rumah murid-murid yang tidak pernah masuk sekolah, mengajar mengaji yang dilakukan setiap hari di rumah Isna, memimpin senam pagi di muka halaman sekolah, atau sekedar menimba air di sumur bersama milik warga.

Padahal apalah artinya seorang pengajar muda. Datang tak lama dari Jakarta. Hanya berbekal pengalaman mengajar yang ala kadarnya. Hanya berniat belajar dari masyarakat hebat, yang sebenarnya tak jauh ada di depan mata. Hanya menyelesaikan sepersekian persen masalah pendidikan saja, yang ada di Indonesia. Hidup sebagaimana masyarakat hidup, membuat diri ini banyak belajar dari apa yang sebenarnya telah ada. Apalah artinya seorang pengajar muda. Apalah artinya keberadaan satu orang pemuda. Tanpa niat perubahan dalam diri pelaku pendidikan yang sebenarnya, maka lagi-lagi semua akan sia-sia tak berbekas ditelan masa.

Untuk guru-guruku yang sedang berulang tahun pada hari ini,

Sebenarnya kalian adalah sesuatu yang menuntun kami kejalan kupu-kupu.

Kalian sudah menjadi puisi abadi, yang tak mungkin kami temukan di dalam sebuah buku.

Mungkin matahari mengundangmu, tapi bintang lebih memerlukanmu.

Ingatlah satu hal bahwa hidup bukanlah seonggok kertas lusuh dengan bacaan nyata “Ayo Terus Mengeluh”, Tapi ia adalah deretan angka yang harus dikejar sampai dengan angka sepuluh.

Tentang Penulis

Dulu saya adalah seorang Ketua Teater ketika duduk di bangku SMA (SMA 1 Bogor). Keahlian saya membaca puisi, berdrama, memainkan alat musik membuat saya menjadi berprestasi dibidang-bidang yang menggunakan kemampuan otak kiri. Banyak perlombaan yang saya menangkan. Diantaranya adalah Juara 1 Poetry Reading Contest LIA se-Bogor dan terus menjadi pemenang sampai tingkat Jawa dan Madura, Juara Harapan II Teater SMK 3, Juara 1 membaca puisi “say no to drugs” se-Bogor, dan mengadakan pelatihan teater bersama Teater Mandiri Pimpinan Putu Wijaya.

Berjalan di bangku kuliah, diperkenalkan dengan lingkungan yang sholeh, diperkenalkan dengan kondisi Indonesia yang carut-marut, diperkenalkan dengan lingkungan yang menuntut agar diri ini terus menjadi lebih baik, ternyata membuat saya berpikir dua kali tentang apa yang harus saya lakukan untuk dunia dan akhirat. Pada masa ini, saya mulai diperkenalkan olehNya bahwa pencapaian dunia bukanlah ujung kesuksesan sesungguhnya. Tindakan konkret yang bermanfaat bagi orang lainlah yang merupakan kunci seseorang dapat sukses, hidup bahagia.

Pada titik ini, capaian-capaian hidup saya berubah bukan hanya tertuju pada diri sendiri maupun komunitas, melainkan sudah menapak pada tataran perubahan bangsa Indonesia yang lebih baik. Salah satu capaian itu terwujud ketika saya mendapatkan dana grant pada bulan Desember-Januari 2009, sebagai Pemenang Beasiswa Penelitian Sayembara Karya Tulis Nasional BPN RI. Semua berawal dari ketertarikan saya terhadap konflik pertanahan di Papua dan berakhir dengan pengakuan skripsi saya dibidang Hukum Agraria. Hasil skripsi saya bermanfaat bukan saja untuk para pihak yang terlibat konflik hak ulayat di Papua, melainkan juga diterbitkan pada jurnal BPN se-nusantara. Dalam bidang akademik lainnya, saya juga lulus kuliah dengan predikat cumlaude, sempat menjadi Asisten Peneliti dalam Penelitian “Pengelolaan Hutan Wonosadi, Gunung Kidul” pada Januari-April 2010 dan sempat menjadi Kordinator Sekolah Anti Korupsi SMP-SMA Teminabuan dalam KKN Tematik Sorong Selatan pada tahun 2009. Dalam bidang kemahasiswaan, pada tahun 2008-2009, sayapun pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa, atau disingkat PEM FH UGM. Dan secara bersamaan sempat menjabat sebagai Kepala Departemen Pembinaan dan Pelayanan Umat, Keluarga Muslim Fakultas Hukum UGM, dan Kepala Departemen Syiar Pesantren Mahasiswi Darush Shalihat, PMi-Darush Shalihat.

Sebelum mengambil keputusan untuk bergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar (GIM), saya pernah bekerja sebagai Corporate Secretary jo. Legal Officer di Lembaga Pendidikan dan Inovasi GCMednovation (Generasi Cerdas Mandiri Education and Inovation), sekaligus menjadi Manager Operasional Distributor MQ Jernih Jogja Utara pada Juli 2009-Januari 2011. Namun tentu semuanya terhenti. Tawaran seorang teman mengajak saya untuk bergabung dengan GIM, membuat saya berpikir kembali untuk menentukan pilihan diantara dua keadaan ini. Tetap meneruskan kuliah S2 jurusan Kenotariatan UGM yang dibiayai oleh Kantor atau mengambil cuti, melepaskan beasiswa dan mencoba ikut seleksi untuk bergabung dalam GIM? Dua keputusan ini sungguh menyulitkan pada waktu itu. Sampai suatu waktu saya berpikir, apalagi yang saya cari di dunia ini ketimbang mempersiapkan amal terbaik untuk akhirat nanti. Pilihan itupun bergulir sendiri dan akhirnya mengantarkan saya sampai bisa berdiri disini.

Ratih Diasari dapat dihubungi melalui email ratih_diasari@yahoo.com atau FB: Ratih Diasari

Tulisan dipersembahkan untuk guru-guru se-Indonesia dalam rangka memperingati hari Guru yang jatuh pada tanggal 25 November 2011 nanti.

Apalah Artinya Seorang Pengajar Muda (#1). oleh : Ratih Diasari

Awalnya, saya tidak pernah mengerti mengapa saya harus berada disini. Menekuni beberapa hal, yang tak pernah saya alami bahkan pikirkan di alam bawah sadar saya selama ini. Berkutat dengan perangkat pembelajaran seperti SK-KD (Standar Kompetensi-Kompetensi Dasar), pemetaan, jaringan tematik, silabus, ProSem (Program Semester), ProTa (Program Tahunan), RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal), penilaian berkarakter, rasanya membuat hidup saya tiba-tiba pening sekali. Berbeda sekali dengan permainan saya sebelum ini, yang berkutat dengan berkas-berkas kontrak, Kitab Undang-Undang Hukum atau delik-delik pidana yang dulunya sempat empat tahun saya pelajari.

Lagi-lagi dulu, ternyata saya juga tidak pernah mengerti. Mengapa menjadi guru akan mendapat kebaikan banyak sekali. Hanya mendidik anak-anak untuk terus berlatih, mengajari mereka bagaimana menjadi anak yang berbakti, bisa menjadikan anak-anak untuk terus mengabdi, tapi satu sisi bisa menuai pahala yang mungkin takkan bisa dihitung sama sekali. Allah tinggikan derajatnya, seperti janji yang Ia ungkapkan dalam sebuah kitab suci. Rasanya dulu saya tidak pernah paham mengapa pendidikan itu penting sekali, dan mengapa menjadi guru ternyata merupakan karunia tersendiri.

Lagi-lagi, sepertinya saya tidak pernah mengerti begitu mendalami pekerjaan yang teramat mulia ini. Mengapa menjadi guru harus up to date dengan perkembangan terkini? Mengapa menjadi guru harus kreatif dengan banyaknya metode pembelajaran yang harus terus diperbaharui? Mengapa menjadi guru harus dapat menjaga diri? Mengapa menjadi guru harus memiliki akhlak yang baik? Tidak boleh membedakan siswa yang pintar dan sebaliknya. Tidak boleh berkata-kata kasar. Tidak boleh memukul dengan rotan. Tidak boleh meninggalkan kelas untuk sekedar nyafar. Tidak boleh minum-minuman yang haram. Menjadi guru adalah seperti menjadi da’i sejuta umat. Dekat dengan Tuhan, dan didoakan oleh para malaikat.

Sayangnya di sinilah saya baru menemukan sebuah pertanyaan lagi untuk menjawab semuanya: Mengapa tidak ada yang mau menjadi guru di sini? di daerah terpencil ini. Di daerah yang kaya ini. Di daerah yang sama isinya akan anak-anak yang ingin sekali bercita-cita tinggi. Bermimpi untuk memajukan daerahnya sendiri. Bermimpi untuk memajukan bangsanya sendiri.

————————

Sebenarnya sama pula kebingungan saya kepada orang lain yang terus mempertanyakan, mengapa mereka bingung kepada saya yang mau mengikuti program Gerakan Indonesia Mengajar_“Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi”_

Melihat kondisi masyarakat Indonesia yang masih merupakan masyarakat miskin menjadi sebuah catatan besar bagi diri ini untuk turut memperbaiki dan kembali meneruskan perjuangan para pahlawan bangsa. Fenomena masyarakat Indonesia yang begitu timpang, terpuruk karena ulah korupsi juga bukan suatu nikmat atas luasnya daerah yang telah kita rebut pada masa penjajahan dulu. Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, letak geografisnya yang strategis, hamparan pulau dan pesisirnya yang begitu luas, potensi kandungan flora dan faunanya yang besar dan beragam di dunia, kekayaan bahan tambangnya yang begitu melimpah, seharusnya membuat negeri ini kaya, makmur, sejahtera, bermartabat dan berperadaban tinggi.

Namun apa yang terjadi pada negeri ini? Dengan memiliki keindahan alam, kesuburan dan kekayaan alam tetap saja negeri ini menyisakan keterbelakangan, ketimpangan, kemiskinan, dan keterpurukan. Nikmatnya kekayaan alam belum dapat kita rasakan seutuhnya. Hal ini bukan karena masyarakat Indonesia tidak mengetahui begitu luas dan kayanya persebaran sumber daya alam Indonesia, melainkan ini soal kebodohan yang menimpa anak bangsa. Masalah sosial ini bukan tanpa dasar pemberlakuannya, melainkan ada penyebabnya. Kesemuanya ini membentuk lingkaran setan mengkait bersama masalah-masalah hukum, politik dan ekonomi. Masalah sosial ini tentu hanya bisa diputus dengan pendidikan.

Saya memiliki harapan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Menjadi bagian dari solusi masalah bangsa saat ini, dan mengambil peran secara langsung dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Ketertarikan atas konsep pemerataan pendidikan dan penerjunan orang-orang yang berkualitas pada suatu daerah terpencil merupakan alasan bagi saya untuk bersemangat mengikuti program Gerakan Indonesia Mengajar ini. Program ini adalah upaya konkret untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Saya ingin menginspirasi anak pelosok untuk berani bercita-cita dan berani memperjuangkan cita-cita itu. Tanpa adanya cita-cita, mustahil ketimpangan daerah dapat sirna. Mustahil adanya perbaikan signifikan pada sebuah daerah.

Karantina

Tetap berjuang, belajar dan teruslah berkarya. Wejangan Prof. Nurhasan selaku Ketua Bagian Hukum Agraria-UGM, tak lama saya dengar maknanya begitu dalam. Segeralah kembali, dengan semangat melakukan perubahan bangsa yang lebih baik. Maju berjuang, tak pandang bulu membantu rakyat yang tertinggal di daerah pedalaman. Banyaklah belajar dari pengalaman. Banyaklah mengambil hikmah kehidupan yang disediakan oleh alam.

Tak terasa sudah lebih dari enam bulan, tepatnya tanggal 24 April 2011, kami yang 72 orang terpilihpun dikarantina. Surat cuti mulai dari Dekanat, Kepala Prodi Kenotariatan sampai dengan Direktur Akademik dan Administrasi telah saya berikan. Kini waktunya mengkonkretkan kalimat dalam alinea pembukaan UUD’45. Memperjuangkan nasib mereka untuk mendapatkan pendidikan yang seutuhnya. Mungkin saat ini, Allah menakdirkan agar saya menjadi seorang Pengajar Muda. Sebuah profesi untuk mendidik anak bangsa dari keterpurukan Indonesia. Maju terus, karena lagi-lagi perjuangan itu belum usai, bahkan akan segera dimulai! Ingat sekali kata-kata itu pernah saya ucapkan, kala mengawali keputusan besar dengan pertentangan orang-orang dekat yang kala itu seakan menjadi lawan.

Penolakan terbesar yang pertama dan utama, saat harus memilih untuk bergabung dengan gerakan ini adalah datang dari keluarga saya sendiri, yaitu Bapak.

Alasan beliau sebenarnya cukup sederhana. Ia hanya ingin anaknya mengambil pilihan yang mendasarkan pada ketentuan alam yang berlaku. Mengambil pilihan umum untuk bekerja atau belajar pada jurusan yang memang ‘sewajarnya’. Tidak dapat dipersalahkan, karena sebagian besar orang tua memang memproyeksikan anaknya seperti itu. Begitu juga dengan Bapak. Bapak adalah pribadi yang berjalan di areal kejelasan. Jelas karier, jelas pendapatan, dan jelas dapat hidup menyambung masa depan. Bapak menginginkan agar saya cepat lulus dan menjadi PNS di suatu departemen yang bergengsi. Standar, klasik yang penting bisa dijalani. Tentu tidak usah basa-basi, karena esok juga akan menjadi seorang istri. Ya, begitulah bapak.

Waktu itu, saya yakin gumamnya takkan lama bertahan, kalau tekad sudah bulat tertanam. Tinggal bagaimana kita mau membuktikan, sebuah keseriusan memilih jalan perjuangan. Sampai pada akhirnya, hari itu pun tiba. Hari penerjunan penempatan ke daerah Maluku Tenggara Barat, yang harus dicapai dengan beberapa jam waktu perjalanan. Sungguh tak tega sebenarnya melihat wajah sendu beliau yang seakan tegar mengantarkan saya ke Bandara. Hanya mengajar anak pedalaman saja, yang saya ikhtiarkan untuk dapat menjadi amal terbaik beliau kelak manuju surga. Bangganya saya memiliki bapak, terima kasih karena sudah mau berbeda. Membuat saya tegar bertahan, mempertanggungjawabkan pilihan ini kepada nusa dan bangsa.

Penempatan

Warna dasarnya jernih. Terlihat ada yang hitam, abu-abu, hijau, biru dan putih. Di dalamnya ada bintang laut yang besarannya tak pernah dijumpai. Ada rumput laut yang sedang menari berlenggok kanan dan kiri. Ada ikan yang tak sengaja dekat menghampiri. Ada pasir putih yang begitu indah untuk dinikmati. Ada siput yang mengumpat diantara rerumputan laut yang sebenarnya tak mati, dan ada air laut yang begitu asin sekali. Semua terlihat kontras bergradasi dan sayapun tak mampu berucap lagi.

"Asin".

"Asin". Saya ucap dua kali. Tak sengaja sambil meludahkan sisa airnya dengan muka yang ditekuk dan alis yang didekatkan tak sengaja mengkerut.

"Asin banget ". Gumam saya lagi diimbangi gerakan mulut yang langsung membuang air laut yang pada waktu itu coba saya cicipi penasaran apa rasanya. Untuk pertama kalinya dengan sengaja saya tergerak untuk mencoba air masin di pelabuhan. Sepanjang pengalaman, saya memang tahu bahwa air laut itu asin, tapi ini lebih asin lagi. Anak-anak yang melihatpun tertawa cekikikan melihat gelagat saya yang dipandang kurang kerjaan.

Retoris, sungguh retoris. Engkau akan jadi retoris di pulau ini. Ingat kata-kata saya ini. Banyak rasa, banyak warna, banyak fenomena, dan semua begitu berlebih. Sampai kita bisa mengeluarkan pertanyaan atau pernyataan yang sebenarnya itu pernah dirasakan, namun beberapa hal yang pernah dirasakan tadi ternyata bisa jauh lebih indah, jauh lebih nikmat, jauh lebih besar dibanding potret pengalaman sebelumnya.

Inilah gambaran saya terhadap wilayah terluar nusantara yang jarang terjamah oleh masyarakat Jawa-Jakarta. Tak menyangka sayapun sudah berdiri disini. Berdiri di pasir putih yang indah ini. Memang harus benar-benar niat jika ingin pergi mengunjungi saya disini. Untuk mencapai daerah saya, pertama harus mengarungi udara menuju Ambon selama 3,5 jam, kemudian mengarungi udara ke Saumlaki selama 2 jam, dan di akhiri dengan berlayar melewati Laut Arafuru menggunakan motorboat ke Pulau Selaru selama 2-3 jam. Ya, Laut Arafuru. Mau tidak mau, saya harus sering menyebrangi laut Arafuru. Kepulauan Selaru yang dikelilingi Laut Arafuru memaksa saya harus selalu siap dengan perlengkapan kedap air saat menyebrangi Laut Arafuru. Belum lagi buaian ombak yang tinggi kadang sudah cukup membuat saya berkonsentrasi pada perut yang menari, berlari, naik-turun, mual, dan rasakan kegetiran makanan yang selalu tertumpahkan dalam perjalanan keberangkatan. Tak pernah sadar sempat melewati pulau-pulau kecil, seperti Anggormase, Pulau Nuyanat, Pulau Batbual, Pulau Batkawat, dan Pulau Nustabung rasanya membuat diri ini ingin lagi, mengulang kembali, melihat pulau-pulau yang sempat terlewati. Tapi perasaan itu kemudian cepat hilang tak lagi ditemui, karena 200 meter dari pelabuhan sudah tampak rumahku di komplek guru yang ada di pojok sebelah kiri.

Inilah selayang pandang gambaran tempat tinggal saya yang baru. Tempat tinggal yang membawa saya bisa menikmati keindahan alam yang jauh lebih seru. Inilah Desa Adaut, Kecamatan Selaru, Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Pulau terluar nusantara yang bisa dijajaki dengan motorboat ke Australia dalam waktu 2-3 jam, atau ke Timor-timur dalam waktu 1-2 jam. Begitu dekat. Begitu mudah. Walau tak pernah saya bayangkan apa yang terjadi jika tiba-tiba kapal kami karam di sana.

Desa Adaut, Kecamatan Selaru. Satu-satunya daerah penempatan Pengajar Muda di MTB yang bersinyal. Bisa bersinyal, tentu dengan modal membeli antena sinyal di toko cina dan tangan yang kuat untuk lama bertahan di antena sinyal. Tiga bar dengan tulisan ‘Edge’ saja, sudah cukup lumayan, apalagi ditambah dengan listrik yang menyala dari jam 18.00 ke jam 06.00 WIT tentu membuat saya cukup tenang dan nyaman berada disini.

Jika malam tiba, awalnya saya pikir desa kan gelap gulita. Lampu neon yang menyala hanya mampu terangi ruang tamu di bagian dalamnya saja. Tapi yang saya pikir ternyata sungguh jauh berbeda, karena bintang bertaburan begitu banyak di ruang angkasa raya. Malam yang bertaburan bintang. Disinilah baru jelas saya dapat melihatnya. Baru saya pahami itulah sebenar-benar makna cintaNya. Baru saya pahami begitu adilnya Ia ciptakan kerlip nyalanya. Ditempat yang jauh tak pernah disangka sebelumnya. Ia begitu banyak, membuat geli, bergelayutan, berdekatan, bercahaya tak pandang suasana. Jika sedih ia hadir berkelip, jika senang ia asyik berkedip, jika marah ia terus saja tambah bercahaya. Andai saja banyak manusia yang mengerti akan titik kehadirannya. Mungkin akan banyak lagi manusia yang selalu bersyukur karena Allah adil berikan kerlip kebahagiaan pada setiap orang dimanapun mereka berada.

————————

Sebenarnya ada tujuh orang pengajar muda yang diterjunkan di Maluku Tenggara Barat (MTB), dengan persebaran daerah yang saling berjauhan. Tidak ada sinyal di masing-masing daerah maupun alat penyambung komunikasi (red: nelayan) yang secara berkesinambungan dapat mengabarkan keadaan kami. Kami disebar di pulau-pulau kecil yang sama sekali dipisahkan oleh lautan. Tepatnya untuk mengunjungi daerah penempatan, kami harus menyebrangi Laut Arafuru menggunakan kapal ferry atau ketingting dengan bayang-bayang akan selamat atau mati karena ombak yang selalu berayun tinggi. Banyaknya lekuk pulau yang membentuk selat, kadang juga memperpanjang rute perjalanan kami, karena harus berputar untuk pergi ke pulau yang sekedar ada di belakang.

Gambaran geografis desa kami tentu sangat beragam. Disini kami tersebar ke dalam tujuh lokasi, dengan dua lokasi diantaranya tidak tercantum letak keberadaannya di peta Indonesia. Wajar saja, karena kepulauan Tanimbar merupakan daerah kepulauan yang terdiri atas 85 buah pulau, dengan rincian 57 pulau telah dihuni dan 28 pulau lainnya belum dihuni. Dissa di Pulau Yamdena, Dedi dan Bagus di Pulau Molu, Matilda di Pulau Larat, Sandra di Wuar Labobar yang akhirnya dipindahtugaskan karena sakit ke Pulau Wunlah serta Saya dan Arum di Pulau Selaru, pulau terluar sekitar 150 Km yang langsung berbatasan dengan negara Australia.

Dengan luas wilayah sebesar 52.996 Km², kabupaten ini didominasi oleh lautan sebesar 42. 892,28 Km². Mau tidak mau, untuk kebutuhan kordinasi kami membaginya kedalam ‘Anak Arafuru Bawah’ (Saya, Arum dan Dissa) dan ‘Anak Arafuru Atas’ (Matilda, Sandra, Dedi dan Bagus). Beda dikeduanya adalah dalam penggunaan transportasi laut. Untuk sampai ke kota, anak arafuru bawah cukup dengan ketingting atau bus, dengan waktu yang kapanpun bisa kecuali hari Minggu. Berbeda dengan anak arafuru atas yang terpatri dengan jadwal kapal ferry jika ingin turun ke kota. Dua minggu sekali, dengan hari keberangkatan yang tidak pasti membuat anak arafuru atas berpikir dua kali untuk pergi satu bulan sekali untuk sekedar berkordinasi. Dengan keadaan ini, membuat kami tentu tidak bisa berkordinasi setiap satu bulan sekali. Jika rutin dilakukan setiap bulan, maka hitungan matematisnya mereka akan di kota selama dua minggu dan kembali lagi mengajar selama dua minggu. Rencana ini tentu tidak bisa kami wujudkan. Alhasil kami sepakat tidak setiap bulan kami bertemu, namun tergantung perayaan-perayaan besar saja, kami akan berkumpul di kota. Tapi kapan? Ini dia yang tidak pernah kami putuskan. Lagi-lagi terkendala karena jadwal perjalanan ke kota dengan ferry yang tidak pernah ada kejelasan.

Sampai suatu waktu pada awal bulan Oktober lalu, baru kedua kalinya akhirnya kami dapat bertemu. Itupun anak arafuru bawah harus langsung menyambangi anak arafuru atas dengan menggunakan kapal ferry. Hanya berbekal SD Kristen Wunlah, SD Kristen Adodomolo, dan SD Kristen Wadankou, kami nekat melakukan perjalanan dengan semangat optimis esok akan dipertemukan dengan cara yang telah diatur olehNya. Tidak ada makanan yang disediakan oleh kapal selama perjalanan. Tidak juga ada pelabuhan untuk sekedar berhenti, menambah makanan untuk perbekalan. Tiga hari tiga malam, dengan perjalanan yang harus terus disambung dengan menggunakan sampan. Sebuah perjalanan ruhani yang tidak semua orang bisa merasakan.

Memang kadang begitulah kehidupan. Kerasnya hidup seakan seperti batu karang. Sulit terlubangi, tapi mungkin untuk terlubangi jika terus diberi tetesan air dalam jangka waktu yang lama. Cobaan dalam hidup memang sangatlah berat, akan tetapi yakinlah kita pasti dapat melewatinya dengan kerja keras, ketekunan, semangat pantang menyerah, keyakinan serta didukung dengan doa.

Kita boleh saja tidak memiliki kompas ataupun peta dalam mengarungi luasnya lautan. Akan tetapi, kita harus yakin. Kita semua diberi anugerah oleh Sang Pencipta sebuah hati yang dapat digunakan untuk menentukan mana kira-kira arah yang tepat dan pantas untuk kita tuju. Oleh karena itu, jangan pernah takut bermimpi, karena hal tersebut tidak akan pernah membuat kita tersesat.

————————

Hari ini lonceng gereja sudah berdentang dua kali dalam sehari. Lonceng pertama terdengar tepat jam delapan pagi, dilanjutkan lonceng kedua yang bersahutan tepat satu jam tadi. Biasa jika terdengar bersahutan di pagi-pagi. Pagi yang langka, pagi yang sunyi, karena hanya didapatkan setelah melewati waktu kerja yang padat selama enam hari. Di hari ini semua kegiatan pelesir dihentikan. Tidak ada lagi kapal dausawk ke Saumlaki. Tidak enak juga hilir mudik di depan gereja, kesana-kemari. Tepat pukul sembilan nanti, semua orang sudah harus duduk tenang untuk sembahyang. Mengagungkan nama Tuhannya, melantunkan lagu pujian.

Inilah keluarga dan lingkungan baru saya, di Desa Adaut, Kepulauan Selaru, Maluku Tenggara Barat. Ada 1.118 KK yang beragama kristen, dan sisanya hanya 2 KK yang minoritas Islam. Disini tepatnya saya tinggal bersama dengan keluarga kepala sekolah yang beragama nasrani. Namun tentu hal tersebut tidak terlalu menjadi kendala yang berarti. Dengan latar belakang keluarga ini yang sudah 19 tahun hidup di Banda bersama dengan penduduk mayoritas muslim, membuat keluarga ini menjadi jauh lebih mengerti.

Tak pernah sedikitpun keluarga ini membiarkan saya lemas kelaparan. Tak pernah sedikitpun me’tua meninggalkan saya mati kesepian. Ada saja cerita yang beliau berikan, sehingga membuat saya seakan kaya akan pengalaman. Memberikan tempat ternyaman untuk saya tidur, menjaga makan-minum saya dari segala yang haram, membuatkan gentong wudhu agar saya dapat bersuci dengan air yang selau suci, menyiapkan makan sahur maupun berbuka tanpa pernah banyak mengeluh. Semua mereka lakukan dengan tulus, ikhlas, dengan motif kebaikan yang selalu begitu.

Akhlaknya baik. Akhlaknya bersih. Keluarga ini adalah tempat saya berkeluh kesah, setelah doa dan pengharapan yang biasa saya sampaikan pada Allah semata. Belajar dari keluarga ini membuat saya selalu merasakan hikmah, bahwa sebenarnya Allah masih membimbing saya untuk mendekatkan diri ini senantiasa padaNya.

Pengiriman buku-buku tahap 1 done!! :)

merinding liat hampir 1kontainer buku siap dikirim ke seluruh penjuru indonesia buat bahan bakar pendidikan” (vita wahyu, salah satu penyala MTB)

Alhamdulillah, Hari Minggu 24 Oktober kemarin penyala MTB telah selesai melakukan packing. Lalu, tanggal 29 Oktober, telah dilakukan pengiriman melalui agen menuju ke Maluku Tenggara Barat. Sebanyak kurang lebih 700 buku dikirim dari Jakarta, jumlah buku ini akan dibagi rata ke 7 wilayah pengajar muda MTB :)

Tidak sabar menunggu cerita para Pengajar Muda disana.. Semoga bisa membakar semangat adik-adik kita untuk tidak berhenti menyalakan MTB, menyalakan Indonesia kita :)

Packing hampir selesai! :D

Hari Selasa kemarin, (18 oktober 2011) Para Penyala MTB kembali melakukan packing. Alhamdulillah udah hampir selesai..Hari Minggu (23 oktober 2011) besok adalah packing terakhir, setelah itu akan langsung dikirim melalui agen pengiriman..

Terima kasih banyak buat temen-temen yang udah turut membantu, baik menyumbangkan buku, donasi ataupun tenaga.. Pasti adik-adik MTB udah nggak sabar banget menyerap ilmu dari buku-buku kita. Semoga bisa menjadi ‘jendela dunia’ untuk mereka dan bermanfaat dalam ‘menyalakan’ MTB :)

Buat temen-temen yang mau bantu packing kita masih bisa kok Minggu besok, langsung ke Kantor Indonesia Mengajar ya, Jl. Galuh II no 4 Kebayoran Baru :)

Indonesia Menyala!

Ayo ikut bergerak bersama kami, Indonesia Menyala, utk memajukan dan menyalakan pendidikan hingga ke pelosok terdalam Indonesia!

Caranya mudah: Hanya dgn mengirimkan 1 tweet penyemangat dari twitter kamu dgn hashtag #SecangkirSemangat , maka kamu telah menyumbangkan 2 buku untuk adik2 di pelosok daerah yang sangat membutuhkannya :)

Kami percaya teman2 peduli dgn pendidikan Indonesia karena teman2 lah Penyala cahaya pendidikan Indonesia :)

Info lebih lanjut:

http://www.indonesiamengajar.org/tentang-indonesia-mengajar/indonesia_menyala/

http://www.secangkirsemangat.com/

Kami dalam berita:

http://m.detik.com/read/2011/10/14/204200/1744559/727/secangkir-semangat-untuk-indonesia

Dan, jangan lupa follow @Penyalamtb ya :)

Wah, kita sudah mulai packing!

Selama kurang lebih 3 minggu, di tiap hari Selasa, Kamis, dan Minggu, Penyala MTB bersama dengan para Penyala lainnya telah melakukan sortir buku hasil sumbangan teman-teman semua. Maksud dari sortir buku disini adalah menyesuaikan jenis buku dengan kebutuhan dari masing-masing daerah, sesuai dengan informasi dari para Pengajar Muda.

Nah, hari Minggu kemarin, 16 Oktober 2011, Para penyala sudah mulai melakukan packing buku-buku tersebut untuk kemudian siap dikirim dalam waktu dekat. Begini kira-kira suasana packing nya…

.

Buat teman-teman yang mau ikut berpartisipasi, ayo follow twitter kita di @penyalamtb untuk tau jadwalnya. Dan bagi yang masih ingin menyumbangkan buku-buku, bisa langsung diantar atau dikirim ke Kantor Indonesia Mengajar, Jl. Galuh II no. 4 Kebayoran Baru, Jakarta.

Karena dengan berbagi, hati kita akan lebih terisi :)

Terima kasih! :)

Perjalanan Anak Bangsa: Indonesia Mengajar (Chapter 8) - Ratih Diasari (PM)


Mataku dan matanya tiba-tiba basah. Satu per satu bulirannya keluar dari bola mata yang seharusnya berdendang tak pikirkan kesulitan yang ada di depan mata. Tak tahu mengapa semua bendunganku tentang anak-anak meledak di depan mereka. Bocah kecil beranjak dewasa yang kupaksa mendengar nasihat dini seorang guru yang beranjak tua. Air mata kami semua mengalir deras. Tumpah ruah, membisu, menunduk, sedekap tanpa suara. Hari ini kukabarkan, anak-anak tidak akan bertemu denganku selama beberapa minggu lamanya. Petuahku agar rajin belajar, rajin membaca dan selalu berbuat baik rasanya begitu hambar untuk dirasa. Harapan yang masih semu memaksaku bergerak tinggalkan sekolah yang masih mengeram pada perkalian bilangan dua.

Kami, anak arafuru bawah dituntut keadaan untuk mengambil keputusan yang selalu harus segera. Keberadaan kami yang hanya bertiga tak dapat dielakkan memang menyulitkan setiap gerak-gerik yang ada. Tiga orang pengajar muda yang ada disini, tentu tidak akan dapat merepresentatifkan masalah pendidikan pada tiap daerah penempatan yang ada. Tak pernah berkumpul sekaligus bertujuh, membuat kenampakan isu besar yang akan kami galang menjadi gamang. Gagasan besar tentang pendidikan di kabupaten akan semakin melemah, sejalan dengan begitu lambannya eksekusi gagasan yang cuma terpendam ada di dalam pikiran. Kami tentu harus bertemu dan mengambil sebuah keputusan. Tapi bagaimana caranya? Terjangan ombak yang begitu tinggi membuat surat yang kami titipkanpun tak mampu sekedar menyebrang ke pulau seberang. Ikut berlayar untuk menyambangi pulau seberang, akhirnya merupakan pilihan yang kami ambil agar bisa dapatkan jawaban.

Mulai mengendepankan logika, mengubur kenangan bersama anak-anak di sekolah.  Keadaan ini membuatku bisu, kaku, sekejap tak bisa katakan apa-apa. Berusaha sekuat tenaga untuk mematikan semua rasa yang ada. Rasa yang telah kubangun bersama mereka, kubekukan hingga kupastikan semua telah mati rasa. Perasaan ini kubuat mengeras agar optimal gencarkan masyarakat saat keberadaanku yang tak banyak ada di kota.

Tak lama aku meninggalkan mereka, sore harinya aku sudah naik kapal ferry untuk pemberangkatan menuju sebuah desa yang bernama Wunlah. Pulau kedua setelah Sera dengan waktu perjalanan tiga belas jam dengan arungi samudera. Cukup jauh seperti perjalanan Yogya-Jakarta yang mampu kusambangi waktu itu hanya dengan kereta. Ombak yang terus berayun, mau tidak mau membuat kami tak hentinya untuk terus berdoa. Sebuah misi untuk menjemput pengajar muda, mengajak mereka rapat di Larat, mengambil sebuah kesepakatan, dan yang terpenting memastikan semua PM tahu apa tugas besar yang harus mereka perbuat. Hanya mengitari daerah pengajar muda dan kembali dengan hasil yang kami peroleh dari tujuh kepala.

Dalam perjalanan, sebenarnya kami juga tak tahu dimana alamat para pengajar muda. Tak ada bayangan sebelumnya dimana tepatnya mereka berada. Hanya berbekal SD Kristen Wunlah, SD Kristen Adodomolo, dan SD Kristen Wadankou, kami nekat melakukan perjalanan dengan semangat optimis esok akan dipertemukan dengan cara yang telah diatur olehNya. Tidak ada makanan yang disediakan oleh kapal selama perjalanan. Tidak juga ada pelabuhan untuk sekedar berhenti, menambah makanan untuk perbekalan. Perjalanan yang harus disambung dengan menggunakan sampan, mau tidak mau harus kami persiapkan sebelum menyambangi daerah penempatan.

Lamanya perjalanan membuat kami hanya bisa keluar masuk melihat eloknya pesona keindahan alam. Burung pelikan yang bertebar ke atas dan ke bawah, terlihat berkepakan membentuk formasi yang terbayang indah ada di tengah lautan. Beberapa kali tergambar seakan daerah ini tersebar dengan banyak ribuan pulau. Beberapa tertutup awan, sehingga hanya tampak ujung-ujung warna hijau terserak embun dikejauhan. Adapula pulau yang berwarna biru seperti lautan. Penampakannya mungkin tergambar mirip seperti ada di negeri khayangan. Sayangnya di peta tak ada, kalaupun ada juga akan sulit mengenali ini pulau yang mana.

Begitu lamanya perjalanan menuju Wunlah, tak kusangka hari ini aku masih teromabang-ambing berdesir bersama ombak, penguasa lautan. Menikmati riaknya yang kuat. Tubuhnya yang memang benar besar. Sayapnya yang memang benar mengalun-alunkan. Berdesir begitu ramai. Bergantian, serasa bebas tanpa tanggungan. Ia begitu lincah, ternyata tak sama dengan ombak yang biasa ada di bawah. Kadang ia di atas. Kadang ia menyamping. Namun kadang ia juga menggulung ke bawah. Kadang ia menari tinggi. Menguat, kemudian pecah. Namun, beberapa kali ia juga bisa tenang. Suaranya lirih, namun kadang bisa juga ia marah. Tentu tidak memiringkan kami yang saat itu berada di dalamnya. Dibarengi dengan efek angin laut, aku hanya bisa terus bersyukur dengan kenikmatan yang selalu datang tiba-tiba.

Pukul 04.00 WIT waktu subuh, akhirnya sampai juga kami di pulau Wunlah. Lima belas jam perjalanan hanya sekedar menjemput satu orang pengajar muda. Hanya satu jam, kami diberikan waktu oleh Komandan Ferry untuk menjemput Sandra. Dengan modal waktu yang terbatas, kamipun pergi dengan perlengkapan elektronik yang dibabat seadanya. Perlu dibabat takut-takut sampan terbalik dan menenggelamkan alat komunikasi yang saat itu sekedarnya kami bawa. Turun dengan life vest berwarna orange, sungguh mencolok beberapa mata masyarakat yang saat itu sedang tidur di geladak bawah. Balasan mata kami yang tetap lurus kedepan mencari sampan adalah usaha kami agar bisa cepat menjemput Sandra yang kami bayangkan sedang tidur-tiduran. Namun yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Sungguh Allah telah merencanakan, tanpa menyusahkan kami untuk merasakan. Dari sudut yang tak pernah kami sangka, Sandrapun muncul dari keramaian orang-orang yang berdesakan ingin menaiki sebongkah sampan. Satu drigen besar dalam genggamannya ditambah tas backpacker besar dengan tujuan ke Larat, ia rencanakan untuk membeli solar dan printer untuk sekolah. Kaget dan penuh syukur Sandra kami dapatkan. Segera kami bawa ke anjungan untuk kami transfer agenda mendesak yang harus dilaksanakan.

Tujuan kedua kami adalah Pulau Larat. Pulau yang harus kami singgahi untuk menjemput pengajar muda kedua bernama Matilda. Butuh waktu sekitar tiga sampai empat jam untuk menuju kesana. Berbeda dengan keadaan Sandra, Teman kami Matilda sudah lebih dulu beruntung mendapatkan kabar burung bahwa kami akan kesana. Tentu masih dalam suasana kebetulan. Matilda menerima pesan kami tanpa pernah diduga sebelumnya. Ia menerima pesan singkat, saat tak sengaja pergi ke desa sebelah. Alhasil iapun segera mengabarkanku dan siap pergi ke Larat menunggu kami datang dengan mengenakan speedboat.

Di Larat, lima dari tujuh orang pengajar muda telah kami kumpulkan. Sisanya tinggal dua lagi yang masih ada di daerah penempatan. Mereka ditempatkan di Pulau Molumaru. Pulau terjauh yang hanya disinggahi kapal ferry dalam dua minggu sekali. Pulau buangan yang kata kebanyakan orang mirip Nusakambangan. Perjalanan kami ke Molumaru diagendakan akan memakan waktu sekitar empat sampai lima jam. Melewati ombak yang tinggi, maka tak jarang banyak orang meninggal hanya sekedar untuk menyebrang. Beberapa menit lagi, kata bapak komandan kami akan segera sampai ke pulau Molu. Waktu yang diberikan hanya satu jam untuk menjemput pengajar muda yang ada di pulau ini. Tak ada pelabuhan, maka kami harus siap dengan life vest menggunakan sampan.

Kapalpun kemudian berhenti. Dari kejauhan aku melihat pulau yang seakan sama seperti yang kulihat di layar TV. Gambaran pulau seperti dalam film “Case Away” dan gambaran burung-burung pelikan yang begitu besar sama seperti binatang di film “Dinosaurus”. Entah mengapa sesampainya kami di Pulau ini, aku malah menangis. Mungkin aku terharu dengan kebesaran yang diberikanNya pada masyarakat Molumaru.

Pulau Molumaru menempatkan Bagus pengajar muda di Desa Adodomolo dan Dedi pengajar muda di Desa Wadankou, lebih jauh 8 Km dari Adodomolo. Di pulau ini hanya ada 5 SD, 1 SMP dan 1 SMA yang baru dibentuk sekitar enam bulan yang lalu. Tak ada guru yang mau mengajar pergi jauh ke daerah ini. Miskin ikan dan miskin peradaban menjadi alasan yang cukup bagi masyarakat Tanimbar untuk tidak hidup jauh-jauh. Baru sekarang-sekarang saja dengan penempatan Camat yang baru, masyarakat pulau ini diperkenalkan bagaimana harus survive hidup di Molumaru. Bapak Camat, ibu camat, pengajar muda bersama dengan ibu PKK adalah guru bagi anak-anak di pulau ini. Tidak ada guru disini. Maka secara bergantian pengajar muda, camat beserta stafnya mendidik anak-anak disini untuk mau bermimpi jauh.

Untuk ke Adodomolo, Bagus harus menjemput Dedi dengan berjalan melewati hutan dan tebing selama 4 jam. Perjalanan yang tak mudah, karena belum ada pembangunan diantara kedua desa tersebut. Dengan jalan tergesa-gesa, merekapun berlari dengan terengah, sampai baju menjadi basah. Mereka terlihat kepayahan. Sampai tak tega sebenarnya aku menatap ke arah mereka. Aku beserta empat pengajar muda yang lain mungkin juga tak kuasa harus mengajak mereka ke Larat, meninggalkan anak-anak yang sedang giat-giatnya mendekat. Berunding sejenak untuk rapat dan membicarakan hal apa yang akan kami lakukan untuk memajukan pendidikan di Maluku Tenggara Barat.

Seperti kata yang kudapat dari Bambang Pamungkas dalam catatannya, bahwa batu karang memanglah sangat keras, akan tetapi dapat terlubangi juga oleh tetesan air dalam jangka waktu yang lama dan terus menerus. Cobaan dalam hidup memang sangatlah berat, akan tetapi yakinlah kita pasti dapat melewatinya dengan kerja keras, ketekunan, semangat pantang menyerah, keyakinan serta di dukung dengan doa.

Teman-teman sebangsa dan setanah air, sebagai manusia kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Karena sejatinya hal terpenting dalam sebuah kehidupan adalah bagaimana kita berusaha semaksimal mungkin dalam setiap kesempatan, menjalani dengan sepenuh hati dan menerima apapun yang terjadi dengan ikhlas serta lapang dada.

Kita boleh saja tidak memiliki kompas ataupun peta. Akan tetapi, kita harus yakin. Kita semua diberi anugerah oleh Sang Pencipta sebuah hati yang dapat digunakan untuk menentukan mana kira-kira arah yang tepat dan pantas untuk kita tuju. Oleh karen itu, jangan pernah takut bermimpi, karena hal tersebut tidak akan pernah membuat kita tersesat.

Saumlaki, 16 Oktober 2011. Wahai guru-guru se-Indonesia. Sebenarnya kalian adalah sesuatu yang menuntun kami kejalan kupu-kupu. Kalian sudah menjadi puisi abadi, yang tak mungkin ku temukan di dalam sebuah buku. Mungkin matahari mengundangmu, tapi bintang lebih memerlukanmu. Ingatlah satu hal bahwa hidup bukanlah seonggok kertas lusuh dengan bacaan nyata “ayo terus mengeluh”, tapi ia adalah deretan angka yang harus dikejar sampai dengan angka sepuluh. *Terilhami dari pembahasan 7 orang PM selama lima jam di atas kapal ferry.

Fakta menarik lain tentang MTB menurut Ratih.. :)

1. Untuk membuat diri menjadi cantik, maka rambut harus dibonding.


2. Menyapu dalam rumah menggunakan sapu lidi. Masyarakat tidak
terbiasa dengan sapu lantai.

3. Anak-anak cuma menggunakan sepatu ketika berangkat sekolah, saat di sekolah dan pulang biasanya mereka memasukkan sepatu kedalam tas.

4. Sangat biasa untuk memakan mangga yg masih kecil dan masih masam, karena hanya itulah cemilan gratis yang disediakan alam.

5. Ada sashi. Sashi adalah botol yg diisi akar-akar sebagai tanda kepada anak-anak dan masyarakat bahwa sebuah pohon itu tidak boleh dimakan hasil buahnya. Kalau dimakan, maka anak-anak akan sakit perut dan muncul penyakit-penyakit yang lain.


6. Rambut palsu itu bukanlah sesuatu yang memalukan.


7. Ada kesamaan dari kami PM MTB: kami itu pendiam dan tabah.

8. Hanya ada satu lagu nasional yang selalu dinyanyikan bersama: ost
sinetron kadija dan khalifa. Crkcrkcrk….

Lucu ya? Tunggu fakta-fakta menarik lainnya :)

5 fakta menarik lainnya tentang Maluku Tenggara Barat menurut Arum..

1. Rumput laut adalah ‘emas’ bagi masyarakat maluku. Rumput laut menghasilkan pendapatan yang paling besar, mengalahkan ikan. Alih-alih, masyarakat berpindah profesi dari nelayan menjadi petani rumput laut. Anak-anak pun turut serta menjadi pemilih rumput laut. Rumput laut yang terlepas dari tali pemiliknya, dapat diambil bebas. Biasanya dalam dua jam mereka bisa mendapatan satu karung beras. Hasil
penjualannya biasanya menjadi uang jajannya.

2. Di desaku, Werain, adalah desa pasir. Tidak ada tanah merah di sekitar rumahku. Pasir tebal di depan rumahku menjadi media belajar untuk anak-anak ketika les dirumah. Mudah dan murah karena tidak memerlukan penghapus dan spidol ;)

3. Setiap malam kita bisa menyaksikan beberapa rumah yang terang dan memiliki televisi dipenuhi oleh masyarakat yang penasaran akan lanjutan cerita sinetron tanpa akhir. Ketika ruang televisi sudah padat, biasanya warga memenuhi jendela dan menonton televisi dari luar.

4. Penduduk Werain harus berjalan kaki selama 40 menit menit untuk mencapai sumur air bersih, Abat namanya. Air Abatlah yang dipakai untuk masak dan minum. Anak-anak biasanya membantu orang tua dengan membawa 15 liter air. Tidak lupa mereka membawa tas besar bertali yang mereka anyam sendiri. Perjalanan pulangpun di tempuh lebih dari 50 menit karena bebannya yg terlalu berat mengharuskan kami untuk istirahat ditengah jslan.

5. Ada sebuah pulau. Namanya pulau Aryama. Pulau ini sudah terkenal dengan keindahan pasir dan biota lautnya. Aku memang belum pernah kesana, tapi anak-anakku dan masyarakat semua sepakat Aryama adalah tempat terindah di MTB. Foto dibawah ini adalah pantai Kampung Lama,pantai yang terindah yang pernah aku datangi. Nah, pulau Aryama ini jauh lebih indah dari pantai Kampung Lama katanya. Pasirnya lebih putih, lebih bersih dan lautnya juga lebih biru. :)

Yuk, main2 kesini! ;)